
Dutakhabarterkini.co.id// SERDANG-
BEDAGAI – Jagat maya sempat dibuat gaduh oleh narasi "keluarga terlupakan" di Desa Serbananti.
Namun, setelah ditelusuri, drama "Gubuk Derita" yang menimpa pasangan Asniar Damanik (47) dan Tukiren (67) ternyata hanyalah miskomunikasi yang dibumbui kamera sembunyi.
Asniar Damanik secara tegas menyatakan keberatannya atas video viral yang menyudutkan Pemerintah Desa (Pemdes) Serbananti.
Ia merasa dijebak oleh oknum yang mengaku pembeli duku, namun diam-diam merekam pembicaraan tanpa izin dan mengunggahnya tanpa jilbab—sebuah tindakan yang dianggapnya melanggar privasi dan etika.
Narasi bahwa keluarga ini "tidak pernah tersentuh bantuan" langsung rontok oleh fakta lapangan.
Berikut poin-poin yang perlu diluruskan agar publik tidak mengonsumsi informasi setengah matang:
* Status Bantuan: Suami Asniar, Tukiren, tercatat resmi sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah pusat melalui Pemdes Serbananti.
* Kendala Administrasi: Jika dulu sempat terjadi keterlambatan, hal itu murni karena proses pemecahan Kartu Keluarga (KK) Asniar dengan mantan suaminya yang belum tuntas secara administrasi.
* Gubuk vs Rumah: Bangunan 5x5 meter yang disebut "gubuk derita" dalam berita sebelumnya ternyata berfungsi sebagai kios tempat berjualan. Pasangan ini faktanya memiliki rumah tinggal lain yang layak.
"Saya keberatan video saya viral. Mereka tidak memperkenalkan diri sebagai wartawan, ambil video diam-diam saat saya tidak pakai hijab. Saya minta itu dihapus!" tegas Asniar penuh kecewa saat memberikan klarifikasi, Sabtu (17/1).

Kasus ini menjadi tamparan bagi praktik jurnalisme yang minim check and re-check.
Menyebarkan narasi tanpa konfirmasi utuh kepada pihak desa hanya menciptakan asumsi negatif dan kegaduhan yang tidak perlu.
Kepala Desa Serbananti, Darmen Tuah Sinaga, juga meluruskan tudingan miring lainnya terkait pembangunan desa:
* Koperasi Merah Putih: Program ini adalah murni program pemerintah pusat, bukan proyek gelap desa.
* Jalan Menuju SD: Pembangunan jalan tersebut memang belum dianggarkan karena belum masuk dalam skala prioritas Musrenbangdes.
"Kita bekerja berdasarkan sistem, bukan berdasarkan desas-desus," ungkap Kades yang dikenal ramah ini.
Asniar bahkan telah memperkuat keberatannya melalui surat pernyataan di atas materai.
Ini adalah bukti otentik bahwa narasi "warga mengeluh" yang beredar sebelumnya adalah informasi yang tidak akurat dan cenderung manipulatif.
Sudah saatnya publik—dan oknum yang mengaku pemburu berita—untuk lebih cerdas.
Jangan sampai niat "membela rakyat" justru berakhir dengan pencemaran nama baik karena malas melakukan verifikasi.
RED - DKT - AKPERSI
.jpg)


